HALLO!!!!!!
Park Hae In dateng lagi.....
Dan masih dengan genre fav saat ini, Sad End..
Jadi yang gk suka sad end tinggal comment di kotak di bawah, jadi aku gk akan tag sad end ke kalian..
Tapi buat yang suka jangan lupa RCL, atau sekedar RC..
Like tidak di paksakan..
FF ini menceritakan tentang keluarga Park, so jangan heran kalo di sini author yang jadi main cast.a..
Hehehe..
Ok dari pada kepanjangan intro, mending langsung baca,,
Happy reading all..
*readers : bukan sad reading ya??
Me : ada ya istilah sad reading??
**
Park Sang Hyun >> MBLAQ
Park Hae In >> author
Park Hae Dung >> our son
Park Cheon In >> our daugther
Cameo
Jungsoo >> Super Junior
Yesung >> Super Junior
Sunny >> SNSD
Doo Joon >> b2ts
Lee Seung Gi
Park Shin Hye
**
Sang Hyun POV
Angin berhembus kencang pagi ini, langit yang murung, suara petir yang samar-samar terdengar menandakan bahwa sebentar lagi akan turun hujan. Belum satu menit aku memikirkannya, setitik air kini membasahi jendela kamarku, dan segera saja hujan turun dengan lebat. Sepi, itulah perasaanku saat ini, sama seperti sepinya jalanan di depan rumahku.
“Appa,” Cheon In masuk ke kamar dan duduk di sampingku, Cheon In menyandarkan kepalanya di pundakku, “Ommareul bogoshipoyo?” tanyanya dan aku mengangguk, “Rasanya baru kemarin appa dan omma mengajari kalian berjalan,” jawabku pelan. “Na ddo.” Dan dapat kurasakan pundak kecil Cheon In bergerak.
“Uljima appa, Cheon In, aku yakin omma tidak akan suka jika kita duduk disini dan menangisinya. Omma selalu berpesan agar kita selalu tersenyum kan?” aku bangun dan memeluk putra kesayanganku, Hae Dung. “Kamu benar Dungie, Hae In tidak akan senang jika kita terus menangisinya. Cheon In, hentikan tangisanmu,” aku kembali duduk di sofa dan memeluk Cheon In yang sedang menghapus air matanya.
“Appa, bagaimana kalau besok kita kunjungi omma? Aku ingin memberikan hadiah untuk ulang tahunnya besok.” Ajak Hae Dung, “Aish, aku belum membeli bunga. Dungie, temani aku membeli bunga!!” Segera Cheon In menarik Hae Dung keluar, “Ya!! Panggil aku oppa!!!” teriak Hae Dung, “Kita hanya berbeda 5 menit Dungie.. palli!!!!” aku hanya bisa tersenyum mendengar tingkah mereka, “Hae In ah~ andai kamu disini, kebahagiaan keluarga ini akan semakin lengkap.”
POV end
**
--20 years ago—
Gye-ul 1991
Angin musim dingin malam ini terlihat sedikit tidak bersahabat, menghembuskan angin dingin yang menusuk tulang, dan hujan salju yang sangat deras. Seorang gadis berjalan sedikit lunglai dengan sebotol soju di tangan kirinya. Sesekali dia berputar dan tertawa menandakan keadaannya yang sudah mabuk.
“s.e.o.u.l hamkke bulleobwayo kkumi irweojil areumdaun sesang
eodi seona jeulkeo umi neomchineun got~ saranghae~!
s.e.o.u.l hamkke oechyeobwayo eodiseoreodo useul su ittneun
haengbok~~ moduga hanadwoeneun sesang” *SJ ft SNSD – Seoul Song*
Nyanyinya dengan sedikit berteriak dan terjatuh.
“Agashi, gwenchanayo?” tanya seorang nenek-nenek yang membantunya berdiri. “Dia jahat halmeoni~~ kenapa dia harus pergi secepat itu? padahal lusa kami akan menikah~~~” jawabnya sambil menangis, “Aish~~ kasihan sekali. Siapa namamu nak?” tanyanya lagi, “Hae In, Park Hae In halmoni.” Jawab Hae In, di sandarkan kepalanya di pundak tua nan kuat milik sang nenek. “Mau halmoni antar pulang, Hae In?” Hae In menggelengkan kepalanya, “Aku masih ingin di sini, menikmati indahnya malam bersalju bersama halmoni.” Dan sang nenekpun mengelus-elus kepala Hae In.
--1 hours later—
“Kansahamnida halmoni, sudah menemaniku. Mianhamnida sudah merepotkan halmoni. Aku pamit dulu.” Pamit Hae In dan membungkuk, “Hati-hati nak,” Hae In hanya tersenyum. Kini dengan kesadaran penuh Hae In berjalan menuju rumahnya yang tak jauh dari tempatnya sekarang. “Akh!! Kenapa haus sekali?” Hae In melangkahkan kakinya dan memasuki sebuah mini market. Di dekatinya sebuah kulkas besar dan mengambil sekaleng jus jeruk.
“7 sen agashi,” Hae In mengeluarkan uangnya dan memberikan kepada ajumma penjaga kasir
Give it to my Y, listen to my Y, jebal nareul dorabwa
Give it to my Y, dae daphae naegae wae ireo neunji mareul haebwa,
Oh yeah
Give it to my Y, dae daphae naegae wae ireo neunji mareul haebwa,
Oh yeah
“Yoboseo aboji?” katanya setelah mengangkat ponselnya yang berdering. “Ne, aku akan segera pulang. Keunde aku akan sedikit....” Hae In terus berbicara di ponselnya dan segera keluar dari minimarket tanpa membawa dompet dan minumannya.
“Ne abeoji, aku sedang menunggu bis sekarang. Arra ara.. annyeong.” Setelah memasukkan ponsel ke dalam tas, Hae In baru tersadar. “Aiya~~ baboya yeoja. Kenapa aku bisa lupa dompet dan minumanku?” ucapnya malas dan berjalan kembali ke minimarket. Sampai di depan pintu minimiarket, Hae In melihat seorang namja sedang memegang sekaleng jus jeruk yang sama seperti miliknya.
“Ya!!!!” tegurnya saat namja itu hendak meminum jus jeruknya. Hae In berjalan mendekatinya dan melihat ke meja kasir di dalam minimarket. Tanpa berkata apa-apa Hae In mengambil kaleng tersebut dan meneguk habis isinya, di gunakan punggung tangannya untuk membersihkan sisa jus yang membasahi bibirnya dan mengembalikan kaleng kosong ke tangan namja yang melihatnya dengan tatapan kesal.
“Ya!!!! Apa yang kamu lakukan?” teriak namja itu, “Anio, aku hanya haus.” Jawab Hae In dan segera memasuki minimarket, namun namja itu menahan tangannya “Ganti jusku!!!” teriaknya, “Shiro!!!!” balas Hae In dengan suara yang tak kalah keras, “Noe....”
“Ya, Sang Hyun ah~ geumanhae. Kita masih harus bekerja, kajja!!!” panggil salah seorang teman Sang Hyun, “Sudah sana bekerjalah yang rajin. Jadi kamu bisa membeli jus jeruk sendiri.” ejek Hae In. Setelah Sang Hyun melepaskannya, Hae In segera memasuki minimarket dan bermaksud meminta dompetnya. “Ajuma, aku...”
“Arasso, kamu terlihat terburu-buru. Ini dompet dan minumanmu.” Potongnya dan mengeluarkan dompet biru dan sekaleng jus jeruk. “Aihs~~~” keluh Hae In lagi.
**
Sang Hyun POV
“Kansahamnida, silahkan kembali lagi.” Kataku sembari membukakan pintu kaca untuk para pelangganku. Cafe yang selama ini di berikan appa kepadaku berhasil ku kembangkan menjadi cafe yang cukup terkenal di Seoul. “Sang Hyun!!!!” ku lihat orang yang memanggil namaku dengan berteriak, dan itu hanya akan di lakukan hyungku. “Ya~ sombong sekali kau ini. Ku lihat cafe ini semakin sukses.” Katanya dan mengalungkan tangan kekarnya di pundakku, “Ne hyung, bagaimana kalau kita..... Noe!?” bentakku pada yeoja di belakang Sungmin hyung.
“Jadi dia photografer yang hyung ceritakan? Dia yang akan mengambil gambar cafeku untuk di promosikan di –majalah korea--? Anio!!!” tolakku keras, aku masih terlalu sakit hati, mengingat apa yang dia lakukan 3 hari yang lalu. “Mianhamnida,” katanya dan pergi meninggalkan cafeku, “Ya! Kenapa kamu masih seperti anak kecil hah? Itu hanya masalah kecil kan?” kata Sungmin hyung sambil memukul kepalaku dengan buku menu.
Cling!!!!
Yeoja itu datang lagi dengan nafas terengah, “Ini,” di julurkan sekaleng jus jeruk padaku, “Apa ini? Kamu kira di cafeku tidak ada jus jeruk hah?” teriakku lagi, “Ya!!! Aku hanya ingin mengganti jus jerukmu tempo hari. Sekarang tidak ada alasan kamu menolakku!!!!” serunya lebih keras, dan teriakkannya kali ini membuatku tertawa.
**
“Otte? Menurutku untuk bagian pembuka, gambar yang ini bagus juga.” Usul Hae In saat kami sedang melihat beberapa hasil fotonya, “Bagian pembuka? Memang cafeku akan ada di berapa halaman?” tanyaku sambil melihat-lihat foto yang lain, “Molla, mungkin 5 atau 6. Ya tapi kalau kamu ingin menambah atau menguranginya, akan ku bicarakan dengan bagian percetakan.” Jawabnya dan meneguk kopi milikku, “Hae In ah, itu kopiku.” Hae In melihatku dan cup kopi di bibirnya secara bergantian, dan kemudian dia hanya tersenyum dan melanjutkan minumnya, “Dasar pelupa.” Ucapku sambil mengacak poninya.
“Hoam~~~~ lebih baik aku pulang Hyun, ini sudah terlalu malam dan aku sudah mengantuk.” Hae In membereskan beberapa barangnya dan memasukkannya ke ransel hitamnya. “Chakaman, aku antar sampai halte depan.” Dan segera ku ambil jaket dan kunci motorku.
POV end
**
Dengan cepat kau mengisi hari-hariku, dan dengan cepat pula kau meninggalkanku. Waktu memang cepat berlalu, kadang meninggalkan hal yang menyenangkan, kadang meninggalkan hal yang menyedihkan. Berbagai kenangan kini hanya bisa di kenang, berbagai kisah kini hanya bisa di ceritakan dan sebuah dongeng kini hanya bisa di dengarkan. Tapi taukah kau? Sampai kapanpun kenangan kita, kisah kita dan dongeng kita akan selalu hidup sampai aku bisa menyusulmu.
**
Hae In POV
Entah sejak kapan aku mulai bisa melupakan Hyukjae, melupakan kesedihanku karena kehilangan sosoknya yang sangat ku cintai. Melupakannya dan mulai memikirkan namja lain? Memberi kesempatan pada hatiku yang merindukan sentuhan kasih sayang? Membuka kembali hatiku untuk seorang yang mungkin akan membahagiaku hingga hari akhirku di dunia. Apa ini karena Sang Hyun?
“Kenapa diam saja? Jadi, maukah kau menikah denganku?” tanyanya lagi padaku. “Apa ini tidak terlalu cepat?” tanyaku, “Hanya dengan kenyakinan aku berani mengambil keputusan ini. Cheorom..?” ku lihat kesungguhan di matanya, dan berlahan ku anggukan kepalaku. Sang Hyun mengacak-acak rambutku, kebiasaan yang selalu membuatku nyaman.
**
“Hooa!!!! Ini keren sekali oppa!!!” kataku begitu kami memasuki rumah baru kami, sebuah rumah sederhana yang terlihat nyaman dan hangat, “Suka?” aku hanya mengangguk dan mengambil beberapa gambar dengan kameraku, “Kajja, kita bereskan rumah baru kita. Em, bagaimana kalau kita mengecat rumah ini dengan nuansa putih dan warna biru laut?” tanyanya sambil membuka beberapa kaleng cat, “Aku lebih suka biru muda oppa, akan lebih sejuk. Dengan warnah hijau di dapur dan....” sebuah cairan kental dingin kini mendarat tepat di pipiku, “Oppa!!!!!!”
===
Kami berbaring di lantai dingin berbahan marmer halus, akhirnya satu ruangan selesai kami cat dengan kemampuan yang seadaanya. “Oppa, berantakan sekali.” Komentarku ketika melihat beberapa arah cat yang berbeda, “Gwenchana, ini salah satu karya kita.” Jawabnya asal. “Kajja, masih banyak ruangan yang harus kita cat,” katanya lagi dan menarikku ke dapur. Setelah hari menjelang malam, barulah rumah kecil ini selesai dengan berbagai warna yang kami anggap nyaman.
“Aku lapar, dan aku tidak bisa memasak. Oppa, kamu yang masak.” Ucapku sambil merebahkan tubuhku di sofa lembut berwarna coklat. “Mwo? Kamu masih belum belajar memasak?” tanyanya sedikit terkejut dan aku hanya mengangguk menjawab pertanyaannya. “Aih, baboya yeoja. Kajja ku ajari. Kita memasak yang mudah dulu, kamu mau apa?” tanya sembari menarikku ke dapur, “Nasi goreng saja oppa, aku sangat lapar.”
Sang Hyun kini sedang memotong sebatang daun bawang dan memasukkan beberapa bumbu-bumbu lainnya, “Ambilkan nasi.” Ku ambil semangguk besar nasi dan menumpahkannya di atas panci, “Mentega, kecap, garam, gula dan....”
“Oppa!!!! Katakan satu-satu,” protesku karena tidak tau apa yang harus ku ambil, setelah beberapa menit kami berperang di dapur, akhirnya ku masukkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutku.
“Hae In ah~~” sebuah lampu blitz menyapaku seketika, “Oppa, kita foto bersama.” Ku ambil kamera canonku dan memasang timer, “Say chesse!!!!” klik, tak lama foto kamipun keluar dari kamera, “Ambil memo dan pulpen,” perintah Sang Hyun saat mengipas-ngipaskan foto kami di udara, “Ini, untuk apa oppa?” Sang Hyun memasang memo dan menuliskan beberapa kata di kertas memo kuning itu, “Makan masakan pertama, 26 Januari 1992” dan menempelkan foto itu di tembok rumah kami.
POV end
**
“Ya!!! Kamu lupa membawa sumpit?” tanya Sang Hyun. Hae In dan Sang Hyun kini berada di sebuah taman dimana mereka biasa melakukan piknik mingguan, “Mianhae oppa, aku benar-benar lupa.” Sesal Hae In, Sang Hyun menghembuskan nafas dan tersenyum lembut, “Gwenchana, sekali-sekali makan tanpa sumpit tidak akan membunuh kita kan?” ucapnya dan mengambil dadar gulung dengan jarinya. “Kau marah oppa?” tanya Hae In dengan mulut penuh, “Anio, sudah habiskan makanmu. Kita masih mau jalan-jalan.” Hae In menganggukkan kepala dan melahap makannya.
‘Kenapa akhir-akhir ini aku sering lupa?’ batin Hae In bingung, “Waeyo jagi?” Sang Hyun melambaikan tangannya di depan muka Hae In, “Eh? Ah anio, aku hanya berfikir kenapa aku jadi pelupa ya? Padahal dulu aku paling pintar jika harus mengingat sesuatu,” jawabnya, “Gwenchana, mungkin kamu terlalu lelah dengan pekerjaanmu. Akhir-akhir ini kamu sering ke Uslan kan?” Hae In mengangguk, “Sudah, daripada memikirkan hal yang tidak penting, bagaimana kalau kita berfoto sekali dan segera bermain di tempat lain.” Ajak Sang Hyun dan mengambil foto kami berdua.
===
Sang Hyun kini khawatir dengan keadaan Hae In, baru saja dia menjawab mereka akan pulang dan sekarang Hae In sudah menanyakan kemana mereka akan pergi, “Baru saja aku bilang kita akan pulang,” jawabnya setelah Hae In menanyakan hal yang sama 5 menit yang lalu, “Jinjja?” Sang Hyun hanya mengangkat bahunya dan mengalihkan pandangannya ke depan, ‘Apa dia sedang menguji kesabaranku?’ pikir Sang Hyun saat melihat Hae In yang tertidur di sampingnya. “Oppa, kita mau kemana?” tanya Hae In setelah mereka memasuki halaman rumah mereka, “Kita pulang Hae In,” jawabnya dengan sedikit tidak sabar, “Ah sudah di rumah. Kajja oppa, aku sudah mengantuk.” Kata Hae In seakan tidak mendengar jawaban Sang Hyun.
**
“Oppa, aku sudah telat~~~” rengek Hae In sambil membawa kalender ke depan Sang Hyun, “Telat?” Hae In mengangguk dan memegang perutnya, “Jangan-jangan......” senyuman menghadiri wajah Sang Hyun, “Palli, kita harus memeriksakannya,” segera Sang Hyun menarik Hae In ke mobilnya.
“Tidak ada apa-apa. Mungkin hanya keterlambatan biasa,” jelas dokter yang jelas membuat Hae In dan Sang Hyun kecewa. “Ah, mungkin kami yang terlalu berharap, kansahamnida dok.” Hae In keluar dengan wajah sedih, “Sudahlah, jangan di pikirkan terus. Mungkin saja memang belum waktunya,” Sang Hyun menggandeng pundak Hae In dan membawanya ke mobil.
**
Hae In POV
Ini sudah terlalu parah, bagaimana bisa aku melupakan caranya memasang lensaku? Sebenarnya aku kenapa? “Hae In ssi? Apa kita bisa melanjutkan pemotretan?” tanya Sunny, asistenku, “Kita istirahat sebentar. Seung Gi ssi, Shin Hye ssi, silahkan istirahat dulu.” Kataku pada modelku. Ku pijat sedikit kepalaku dan memejamkan mata, “Waegeure?” tanya Doo Joon, salah satu stuffku. “Molla, hanya sedikit pusing.” Jawabku jujur, “Apa aku harus memanggil Boram untuk menggantikanmu?” dengan cepat aku menolaknya, “Anio, ini kesempatanku mendapatkan promosi. Dan aku tidak mau menganggu Boram unni hanya karena penyakit sepele ini.”
“Hae In, kenapa konsepmu jadi seperti ini? Bukankah tadi kita memakai konsep 5C?” tanya Yesung, “Jinjja? Aih, aku lupa.” Ku lihat jam tanganku yang menunjukkan pukul 8 malam, “Ini sudah malam, lagipula Seung Gi dan Shin Hye sepertinya sudah lelah, ottoke?” tanyaku panik, sedangkan foto ini harus aku serahkan besok, “Gwenchana, aku akan membantumu nanti. Sudah pulanglah, Sang Hyun sudah menjemputmu?”
“Aku pulang sendiri, sunbae. Dia sedang ada urusan di Jejju, baiklah aku duluan.”
===
Kebahagiaan memang mahal, sesuatu hal yang harus kita pertahankan, sesuatu yang akan menjadi kenangan indah untuk orang lain. Aku tidak ingin melupakan semua kenangan indah dalam hidupku. Omma, abeoji, Sang Hyun, Yesung, Doo Joon, Jungsoo, Sunny, dan semua orang pernah mengenalku. Tapi jika ini yang Tuhan berikan untukku, aku akan terima. Aku akan mencoba untuk menciptakan banyak kenangan untuk mereka, untuk orang-orang yang menyayangiku.
===
“Mwo? Mana mungkin? Aku masih 25 tahun, mana mungkin aku sudah pikun?” tanyaku begitu mendengar penjelasan Jungsoo, teman SMAku yang sekarang menjadi seorang dokter, “Ne, walau berat tapi aku harus mengatakannya padamu Hae In, kamu terkena Alzheimer.” Jawab Jungsoo. “Dan apa itu Alzheimer?” tanyaku lagi, “Sebuah penyakit dimana ada protein tak lazim yang menggumpal di urat nadi di otakmu, dan ini mempengaruhi sel otak.” Jelas Jungsoo, “Gunakan bahasa yang bisa ku mengerti, Leeteuk.” pintaku.
“Kematian secara mental akan terjadi sebelum kematian fisik. Nyaris tak ada yang bisa kamu lakukan, kamu akan melupakan teman-temanmu, pekerjaanmu, keluargamu, bahkan dirimu sendiri. Semua ingatan akan terhapus total dan otak akan berhenti bekerja.” Jelas Jungsoo, ku tutup mulutku guna menahan tangis, “Apa tidak ada obat untuk menyembuhkannya? Atau mungkin operasi pengambilan protein itu?” Jungsoo menggeleng pelan, “Terlalu beresiko.”
===
Sekali lagi perasaan putus asa menguasai tubuhku, pikiranku dan hidupku. Kenapa harus aku yang mengalami ini? Kenapa harus di saat aku sedang menjalani hidup yang sebenarnya? “Agashi?” panggil seorang nenek yang menepuk pundakku, “Ne halmoni?” tanyaku sopan, “Mengapa kau kembali bersedih? Bukankah kamu sudah menikah dan memiliki hidup baru?” tanyanya, “Mian, apa halmoni mengenalku?” tanyaku heran, “Ne, Park Hae In. Dan ceritakan kenapa wajahmu murung lagi?” aku duduk di sampingnya dan mulai menceritakan apa yang baru ku alami.
“Kalau begitu kenapa harus bersedih? Buatlah kenangan indah bersama semua teman dan keluargamu. Lakukan hal yang kau sukai dan nikmatin itu hingga hari itu tiba.”,
“Aku tidak bisa setegar itu halmoni, aku masih terlalu egois untuk merelakan kehidupanku, aku masih ingin membahagiakan orang-orang di sekitarku, aku masih ingin bersama mereka.” Jawabku yang sekarang menangis. “Dengan tangisan dan kesedihanmu? Kamu boleh menangis, kamu boleh mengeluh, tapi kamu juga harus memberikan kebahagiaan pada orang lain. Semua akan berlalu dengan cepat. Percayalah. Lakukan ini untuk dirimu.”
“Hae In!!!” ku alihkan pandanganku dan melihat Sang Hyun berjalan ke arahku, “Kenapa belum pulang? Untung aku melihatmu di sini.” Tegurnya sambil memukul kepalaku pelan, “Mianhae,” jawabku singkat. “Lain kali jaga dia anak muda, cintai dia dengan sungguh-sungguh.” Nasihat halmoni pada Sang Hyun, “Hae In, halmoni pulang dulu. Tugas halmoni untuk menjagamu sudah selesai.” Segera ku peluk nenek yang selama ini selalu memberikan semangat padaku, “Halmoni, kansahamnida. Jeongmal kansahamnida.” Nenek menganggiuk pergi meninggalkanku dan Sang Hyun.
POV end
**
‘Kenapa dengannya? Kenapa dari tadi dia hanya diam?’ batin Sang Hyun, mereka memasukin rumah kecil mereka dan Hae In segera duduk di sofa coklat kesukaannya, “Oppa, bisa elus kelapaku?” tanyanya, Sang Hyun duduk di sampingnya dan mulai mengelus lembut kepala Hae In, “Waegure?” tanya Sang Hyun yang lagi-lagi tak di dengar oleh Hae In. Hae In meninggalkannya dan kembali dengan beberapa foto, memo dan dua buah spidol. “Kajja oppa, kita tulis semua kenangan kita di foto ini. Supaya aku tidak lupa nanti.”
Walau bingung, Sang Hyun tetap mengiyakan permintaan aneh Hae In. “Sebenarnya kamu kenapa?” tanya Sang Hyun di tengah-tengah pekerjaan mereka, “Ani, setelah tua nanti, kita akan tau apa saja yang sudah kita lewati kan Hyukjae?” jawabnya tanpa menyadari nama yang dipanggilnya tadi. “Hyukjae? Nuguseyo?” tanya Sang Hyun yang mengetahui siapa sebenarnya Hyukjae, “Hyukjae? Apa aku menyebut namanya?” tanya Hae In balik. Sang Hyun yang merasa kesal akhirnya membanting spidolnya dan pergi meninggalkan Hae In yang bingung.
Sang Hyun POV
Kenapa sih dia? Kenapa setelah satu tahun ini dia kembali menyebut nama itu? Kenapa dia selalu membuatku kesal dengan tingkahnya? “Oppa, gwencahan? Ada yang tidak beres?” tanya Hae In dari luar, “Anio jagi, aku hanya ingin ke kamar mandi,” bohongku, aku harus cari tau kenapa dia akhir-akhir ini. Aku harus mulai mengikuti kemanapun dia pergi.
===
“Odie? sebentar lagi malam.” Tanyaku saat Hae In mulai mengenakan pakaian hangatnya, “Aku ada janji oppa. Aku tidak akan lama. Annyeong,” ucapnya dan mengecup bibirku singkat. Selang beberapa menit, ku ambil jaketku dan mulai mengikuti kemana Hae In pergi.
“Rumah sakit? Siapa yang sakit?” masih dengan mengendap-endap ku ikuti dia dengan jarak sangat dekat. “Nyonya Park.” Panggil seorang suster dan Hae In segera memasuki ruangan. Lama, hampir satu jam aku menunggunya. “Annyeong, gomapta Jungsoo. Aku akan segera mengambil obatnya.” Pamitnya dan segera meninggalkan rumah sakit.
Aku tau dia menyembunyikan sesuatu dariku, tapi apa? Dan kenapa dia harus menyembunyikannya? Bukankah kami berjanji akan saling jujur? Apakah perasaannya berubah? Dan kenapa harus Hyukjae? Seorang yang tak mungkin akan kembali, apa dia masih mencintai Hyukjae sampai sekarang? Ataukah ada alasan lain?
“Maaf tuan, tapi tuan tidak bisa masuk. Masih banyak pasien yang....”
“Sudah, biarkan dia masuk.” Kata Jungsoo dari dalam ruangan, “Keunde uisa, pasien yang lain....” tanpa menghiraukan larangan suster, segera aku memaksa masuk dan menutup pintu ruangan Jungsoo. “Jadi ceritakan apa yang terjadi pada Hae In?” tanyaku tanpa basa-basi. “Jadi dia tidak menceritakannya padamu? Kalau begitu aku...”
“Aku suaminya Leeteuk!!!!!” teriakku sambil menarik kerah kemejanya, “Aku berhak tau apa yang terjadi padanya!!!” Jungsoo tersenyum, “Arra, tunggulah dulu sampai aku selesai memeriksa pasienku,” ucapnya tenang dan membuatku menurut.
“Jadi, sebenarnya Hae In kenapa?” tanyaku begitu kami sudah duduk di bangku taman rumah sakit. “Apa yang kau rasakan selama ini?” tanyanya membuatku bingung, “Kenapa masih bertanya? Kau dokternya, kau yang seharusnya lebih tau.” Jawabku dengan sedikit emosi, “Aku ingin tau bagaimana keadaannya sekarang.” Jawabnya dan menegung kopi panas yang masih mengeluarkan asap tipis. “Akhir-akhir ini dia sering lupa, seperti lupa membawa sumpit atau lupa memasukkan nasi di bekal makanannku. Dia juga sering tidak menghiraukan perkataanku, bahkan terkesan tidak mendengarkan, dan kemarin dia memanggilku Hyukjae.” Jawabku seadanya.
“Hyukjae? Mana mungkin sudah sejauh ini?” Jungsoo terlihat bingung, “Sebenarnya ada apa? Kenapa kau sepanik ini? Jelaskan padaku Teuk, apa yang terjadi padanya?” mohonku, Jungsoo mengambil nafas panjang dan mulai menceritakan semuanya.
POV end
**
“Oppa, sarapan dulu!!!” teriak Hae In dari dapur, Sang Hyun yang sedang merapikan dasinya hanya bisa tersenyum dan menghampiri Hae In, “Wah~~ hari ini kau masak apa jagi?” tanya Sang Hyun dari tempat duduk. “Sup iga, makanan kesukaanmu.” Jawabnya dan meletakkan mangkuk berisi sup iga dan semangkuk nasi. ‘Iga? Aku benci iga, apa ini makanan kesukaan Hyukjae?’ batin Sang Hyun. “Gomawo. Em, Hae In hari ini kamu bekerja?” Hae In mengangguk dan memakan nasi miliknya, “Hari ini akan ada pemotretan di kebun binatang.” Jawabnya tanpa melihat Sang Hyun. “Boleh aku temani?”
===
“Kita mau kemana Hae In?” tanya Sang Hyun saat Hae In membawanya ke sebuah taman. “Kita piknik di sini oppa. Aku sudah membuatkan bekal untukmu.” Jawabnya sambil membuka bekal yang dibawanya, “Aigoo oppa~~~ aku lupa membawa telur gulungnya,” Sang Hyun melihat isi kotak bekal di tangan Hae In yang memperlihatkan kotak yang hanya berisi nasi. “Aku akan mencari.. em.... kita mau makan apa oppa?” tanya Hae In. Sang Hyun yang melihat keadaan Hae In hanya bisa menahan tangis, “Aku akan mencari makanan dulu. Tunggulah.” Ucapnya dan meninggalkan Hae In.
**
“Kami akan membawanya, kami..”
“Anio!!!! Aku yang akan menjaganya abeoji. Aku yang akan mengurusnya,” tolak Sang Hyun. Hari ini orang tua Hae In datang dan meminta Sang Hyun untuk menyerahkan Hae In pada mereka. “Sebentar lagi dia akan melupakanmu,dia akan mengompol, dia akan buang air sembarang dan dia akan....”
“Aku tidak perduli!!! Aku berjanji akan selalu bersamanya sampai hari akhirnya. Jebal abeoji, biarkan aku menjaganya.” Mohon Sang Hyun, “Sang Hyun, omma mengerti bagaimana perasaanmu. Tapi omma tidak bisa melepaskannya sendirian selama kamu bekerja. Apa lagi dengan kandungannya yang masih muda.”
Sang Hyun menatap ibu mertuanya tidak percaya, “Kandungan? Hae In,, dia,, dia hamil?” ibu Hae In mengangguk, “Terlalu berbahaya jika dia sendirian, mengingat kondisinya.” Bujuk ibu Hae In lagi. “Anio, aku bisa berhenti bekerja dan menyuruh Sungmin hyung mengurus cafe. Aku hargai niat omma, tapi sekarang Hae In tanggung jawabku, apalagi dia sedang mengandung anak kami. Kamsahamnida.” Ibu dan ayah Hae In hanya bisa menerima keputusan akhir Sang Hyun. “Arasso, tapi jika kamu memerlukan kami segera hubungi kami. Arachi?” Sang Hyun mengangguk dan mengantar kedua mertuanya.
**
Hae In POV
Akhir-akhir ini aku merasa aneh, kehamilanku yang sudah memasuki usia 8 bulan selalu membuatku lelah. Tuhan, izinkan aku memperlihatkan dunia pada anakku, aku tidak ingin menjadi penghambat kehidupan mereka. “Hae In ah, sedang apa? Mana makananku?” tanya Sang Hyun. Seperti biasa, dia akan meminta makan sepulangnya bekerja. “Ada di lemari, ambil saja.” Ku lanjutkan melihat beberapa foto yang kini sudah memenuhi salah satu dinding di rumahku. “Apa yang sedang kamu lakukan sehingga membiarkanku makan sendiri hah?” tanya Sang Hyun lembut dan mengelus rambutku.
“Hanya melihat beberapa foto, oppa kenapa kita selalu piknik di Minggu pagi?” tanyaku, beberapa kali aku mencoba mengingat, tetap saja hasilnya nihil. “Berawal hari kebiasaanmu yang ingin mengambil gambar di pagi hari, dan hanya di hari Minggulah aku bisa menemanimu.” Jawabnya yang sekarang ikut melihat beberapa foto, “Dan kenapa kita harus menuliskan kejadian dan tanggal di semua foto ini?” tanyaku lagi, “ Supaya kita bisa mengingatnya.” Jawabnya singkat.
Tak terasa air mataku mengalir, kenapa begitu sakit mendengar jawabannya yang singkat? “Uljima.” Sang Hyun dan memelukku dari belakang. “Jangan pernah menangis, arasso?” aku membalikkan badanku dan memeluknya lebih erat. “Yakso?” ku anggukkan kepalaku dan menangis di pelukannya.
**
“AIYA!!!!!” teriakku begitu sebuah percikan air panas menyentuh kulitku, “Hae In wae?” aku hanya menunjuk kompor listrik dan air yang mulai mendidih, “Aih, kenapa tidak langsung di matikan?” tanya Sang Hyun dan mematikan kompor dengan menyentuh satu tombol. “Nan andwae oppa, bagaimana aku harus mematikannya?” tanyaku sambil meniup tanganku, Sang Hyun melihatku khawatir, “Kamu tidak bisa?” aku mengangguk, “Ajari aku oppa.” Pintaku sambil mendekatkan diriku ke kompor.
Sang Hyun menjelaskan bagaimana cara menyalakan dan mematikan kompor, kemudian mengambil memo dan menuliskan beberapa cara menggunakan barang-barang di dapur. “Dengan begini tidak ada alasan kamu melukai dirimu sendiri,” ucapnya saat menempelkan memo terakhir di pemanas air. “Ne oppa, gomawo.” Jawabku dan mencium pipinya. Tak berapa lama ku rasakan kepalaku berputar, “Oppa~~” ku genggam erat bajunya, “Hae In ah!!!” terdengar panggilan panik Sang Hyun, pandanganku buram dan semua menghitam.
POV end
“Ottoke?” tanya Sungmin yang datang dengan orang tua Hae In, “Molla hyung, dokter belum keluar dari tadi,” jawab Sang Hyun, “Apa ini bukan pengaruh anak kalian? Harusnya kemarin anak kalian lahir kan?” tanya ayah Hae In, “Ne,” tak lama dokter keluar dengan ekspresi wajah yang sulit di baca, “Dokter, ottoke?” tanya ibu Hae In, “Dia hanya kelelahan. Tapi mengingat usia kandungannya, dia harus segera di operasi. Atau anak kalian tidak akan pernah melihat dunia.” Jelas sang dokter, “Kalau begitu lakukan saja dok,” pinta Sang Hyun, “Tapi ini akan berbahaya untuk Hae In, mengingat keadaannya yang seperti sekarang” kata Jungsoo yang baru saja keluar dari kamar Hae In.
===
“Jadi aku kenapa omma?” tanya Hae In pada ibunya, “Kamu hanya kelelahan. Jangan banyak bekerja mulai sekarang,” nasihat ibu Hae In, “Lalu kapan anakku akan lahir? Ini sudah melewati satu hari dari hari kelahirannya,” Ibu Hae In hanya melihat ke arah suaminya, Sang Hyun dan Sungmin bergantian. “Hae In ah~ kamu sudah cukup kuat kan? Kita lihat bintang yuk,” ajak Sang Hyun dan membantunya duduk di kursi roda.
“Katakan sekarang oppa. Apa yang harus aku lakukan?” tanya Hae In yang seakan tau tujuan Sang Hyun membawanya ke taman rumah sakit. “Kamu harus menjalankan operasi sesar untuk menyelamatkan anak kita,” Sang Hyun membantu Hae In duduk di bangku taman dan meletakkan kursi roda di belakang mereka, “Tapi ini beresiko besar terhadapmu, kondisimu yang kurang baik bisa berakibat fatal. Baik untukmu atau anak kita.” Lanjut Sang Hyun. Hae In diam dan tak menjawab apapun, dia hanya menyandarkan kepalanya dan menggenggam tangan Sang Hyun.
“Lakukan saja operasi itu oppa. Apapun yang terjadi aku akan selamat untuk anak kita dan juga orang-orang di sekitarku. Aku masih ingin hidup dan melihat mereka tumbuh walau aku hanya bisa menjadi manusia tak berguna, aku ingin mengurus mereka dan menciptakan kenangan indah untuk mereka. Lakukan malam ini juga oppa.” Mohonnya, “Kau yakin?” Hae In mengangguk, “Hanya dengan kenyakinan aku berani mengambil keputusan ini.” Jawabnya, Sang Hyun tersenyum getir, “Kau mencuri kata-kata.” Katanya dan mengacak poni Hae In, “Bukan mencuri, hanya mengulangnya saja.” Balas Hae In.
**
--4 years later—
“Cheon In, berikan ini pada omma” Sang Hyun memberikan segelas susu hangat pada Cheon In, anak perempuannya “Appa!!!!! Omma ompol agi!!!!” teriak Hae Dung, kakak kembar Cheon In. “Chakaman!!!!” Sang Hyun segera berlari ke kamar Hae In dan meninggalkan Cheon In yang meminum susu yang seharusnya di berikan kepada Hae In. “Kenapa tidak memanggilku jagi?” tanya Sang Hyun sambil mengganti celana Hae In, “Mianhae,” ucapnya singkat.
“Omma, kenapa omma suka mengompol? Aku dan Cheon In saja sudah tidak mengompol omma,” kata Hae Dung yang sekarang duduk di pangkuan Hae In, “Molla, omma juga tidak mau seperti ini,” jawab Hae In pelan, “Dungie, jangan ganggu omma ya. Omma harus istirahat, sekarang.... “
“Oppa, geumanhae. Aku juga merindukan mereka, kajja Hae Dung, Cheon In. Siapa yang mau omma suapin?” tanya Hae In sambil berdiri berlahan, “Naega!!!!” teriak keduanya dan berlari ke meja makan. “Hae In, gwenchana?” Sang Hyun membantu Hae In berjalan, “Ne oppa, aku ingin menjadi ibu yang baik untuk mereka. Barulah aku akan tenang meninggalkan kalian.” Hae In duduk di salah satu kursi dan menyuapi Hae Dung dan Cheon In bergantian.
Sang Hyun POV
“Appa, aaaa~~~” Hae Dung menyuapiku sesendok nasi miliknya dan berlari kembali bersama Cheon In dan Hae In, “Oppa, kenapa diam di sana. Ayo makan sama-sama,” panggil Hae In dan ku dekati mereka. Malam ini sungguh malam yang ceria, gelak tawa yang keluar dari mulut Cheon In dan Hae Dung, senyuman dari Hae In, dan cahaya bintang yang menemani keceriaan kami. Akankah ini berlangsung lama?
**
“Wah, tidak terasa mereka sudah mau masuk TK. Rasanya berat melepas mereka oppa,” ucap Hae In ketika Cheon In dan Hae Dung memasuki kelas pertama mereka, “Hem, rumah akan sepi sekarang,” jawabku dan memperlihatkan foto kami yang sedang menggendong Hae Dung dan Cheon In. “Jangan lupa catat waktunya oppa,” katanya mengingatkanku. Kami berjalan menuju mobil dan kembali ke rumah.
“Hae In, kamu masih mengingatku?” tanyaku begitu kami sudah di rumah, Hae In yang sedang menempelkan foto di dinding seketika melihat ke arahku, “Tentu saja, kau suamiku kan?” ku acak poninya, kebiasaan yang selalu ku lakukan, “Kalau begitu kamu tau namaku?” lagi-lagi Hae In melihatku dengan heran, “Lee Hyukjae. Kenapa masih menanyakan itu oppa?” jawabnya. Lee Hyukjae? Kenapa dia memanggilku Lee Hyukjae? Apa sebesar itu cintanya pada Lee Hyukjae? “Oppa, wae?” aku menggeleng dan memeluknya.
===
“Jadi dia memanggilmu Lee Hyukjae?” tanya Jungsoo saat aku selesai bercerita, “Kenapa tiba-tiba dia mengingat Hyukjae lagi?” Jungsoo melihatku khawatir, “Katakan saja, aku akan siap mendengar apa yang akan kau katakan.” Lanjutku, tatapan itu. Tatapan kasihan yang ku benci. “Kenangan lama akan kembali teringat, hal itu menandakan penyakitnya sudah sangat parah. Kumohon persiapkan dirimu jika hari itu datang.” Jungsoo menepuk pundakku dan meninggalkanku sendiri. ‘Tuhan, secepat inikah? Jika ini yang terbaik, aku ikhlas Tuhan.’
POV end
**
Hae In POV
Entah kenapa hari ini aku mengingat semuanya, semua kenangan yang sempat terlupa. “Oppa, aku ingin kembali ke tempat itu.” Kataku setelah menyiapkan bekal untuk piknik kami minggu ini, “Odie?” tanya Sang Hyun yang sedang menggendong Cheon In, “Minimarket itu, dimana kita pertama bertemu.” Hae Dung mengambil kotak makan di meja dan memasukannya ke dalam keranjang piknik, “Minimarket? Kita beli jus jeruk ya omma?” pinta Cheon In, “Iya omma, aku juga mau beli snack.” Tambah Hae Dung.
Ku masuki minimarket kenangan ini, ku lihat omma dan abeoji tersenyum di depan kasir, Sungmin oppa yang sedang memilih makanan, Yesung, Sunny dan Doo Joon yang memakan ice cream dan Jungsoo yang membukaan pintu. Senyumku merekah, air mataku mengalir dan kebahagiaan meledak di dadaku. “Ottoke?” tanya Sang Hyun di belakangku, tangannya kanannya memegang pundakku, menjagaku karena tubuhku mulai lemas. “Omma~~” Hae Dung dan Cheon In menggandeng tanganku erat. Tuhan, jika hari ini hari terakhirku, aku ikhlas. Hari ini adalah hari terindahku, hari dimana aku bertemu dengan semua orang yang ku sayang.
Berlahan sosok itu muncul, sosok yang selama ini menjadi bagian hidupku, “Siap Hae In?” tanya Hyukjae dan mengulurkan tangannya. Ku peluk seluruh orang yang ada di minimarket itu, “Oppa, gomawo.” Ku peluk namjaku untuk terakhir kalinya, “Saranghae Hae In ah~~” bisiknya. Ku lihat dua malaikat kecilku, “Hae Dung, jaga Cheon In dan appa ya. Omma percaya kamu pasti bisa, dan omma ingin kalian selalu tersenyum apapun yang terjadi. Arachi?” Hae Dung mengangguk dan memelukku di susul oleh Cheon In. Berlahan mataku terasa berat, dan dapat ku rasakan tubuhku melayang.
“Kajja, waktumu sudah habis.” Kata Hyukjae menggandeng tanganku, ku lihat keluargaku menangis mengelilingku, “Uljima, jebal..” Hae Dung melihat ke arahku dan tersenyum. “Omma, saranghae. Jadilah bintangku omma, aku akan menjaga appa dan Cheon In untuk omma.” Ucapnya dan melambaikan tangan padaku. “Kajja oppa, aku siap.” Ucapku dan pergi meninggalkan seluruh kenangan di dunia. “Semoga kita cepat bertemu.”
**
Gye-ul 2012
“Appa, lihat!!” Cheon In memberikan sebuah buku yang terlihat sudah sangat tua, “Itu milik omma,” Hae Dung mengambil buku itu dan membaca isinya, “Oppa!!! Berikan padaku, aku juga ingin membaca!!!!” teriak Cheon In, “Shiro!!! Harus appa yang membaca!!!” teriak Hae Dung lebih keras, “Oppa!!!!”
“Kalian ini kenapa ribut sekali?” tanya Sang Hyun yang baru saja keluar dari kamarnya, “Ini appa, buku milik omma.” Hae Dung memberikan buku harian Hae In dan menyebabkan Cheon In cemberut kesal, “Siapa yang menemukan ini? Appa sudah lama mencarinya,” Hae Dung menunjuk Cheon In, “Aku menemukannya di gudang appa, saat aku mencari album keluarga kita.” Jawab Cheon In.
Sang Hyun membuka lembaran demi lembaran, memb aca setiap tulisan yang ada. Sampai dia berhenti di kertas terakhir, dan membacanya.
#backsound : the name i loved by Lee Jinki ft Kim Yun Woo#
30 Desember 2008
Sang Hyun oppa!!!!!
Aku ingat semuanya, aku ingat bagaimana kita bertemu, bagaimana kita bekerjasama dalam iklan cafemu, bagaimana aku menyatakan perasaanku, bagaimana kamu melamarku dan bagaimana Hae Dung dan Cheon In menjadi malaikat kita.
Semalam aku bermimpi aku akan meninggalkan kalian, dan Hyukjae oppa datang. Dia bilang waktuku tidak lama lagi, dan harus ku akui aku juga merasakannya. Hyukjae oppa tidak pernah berbohong padaku, setiap perkataannya adalah kenyataan. Maka hari ini aku ingin menuliskan semuanya, semua yang selama ini hanya ku pendam dalam hati, aku ingin kalian mengetahui semuanya.
Aku tau, dalam suatu waktu aku memanggilmu Hyukjae. Mianhae oppa, jeongmal mianhae. Aku tidak pernah bermaksud seperti itu, aku selalu mencintaimu, hanya kamu. Hyukjae oppa hanyalah salah satu kenangan indahku, kenangan dimana aku bisa belajar tentang hidup. Aku menyesal karena harus memanggilmu Hyukjae waktu itu, kamu yang selalu mengurusku, menjagaku, menyayangiku, dan mengelus kepalaku. Aku sungguh bersalah padamu oppa.
Aku menyimpan sesuatu untuk kalian, kalian malaikatku. Aku meletakkannya di lemari pakaianku, mian aku tidak bisa menyerahkannya langsung, ku harap kalian suka.
Oppa, nafasku mulai sesak, aku tidak tau sampai kapan aku akan bertahan, aku ingin bersama kalian jika nanti saat itu datang. Oppa, dia di sini, Hyukjae oppa ada di depanku, dan sekarang dia tersenyum, senyum yang ku rindukan. Dan jangan cemburu oppa, dia hanya menjemputku, apa yang harus aku lakukan oppa? Aku tidak ingin pergi begitu saja.
Oppa, aku harus berhenti menulis sekarang, aku ingin menghabiskan waktuku bersama kalian, orang-orang yang menyayangiku dan ku sayangi.
Saranghae, Park Hae In.
Sanghyun PoV
Ku tutup buku kenangan itu dan melihat kedua anakku. “Appa, omma menulis apa?” tanya Hae Dung, “Aku yang menemukannya Dung, aku berhak membacanya duluan,” sambung Cheon In, “Naega!!!!” balas Hae Dung, “Ya!!!! Jangan bertengkar. Omma hanya mengatakan dia mencintai kalian,” jawabku singkat, “Jinjja appa?” ku anggukkan kepalaku, “Ah~~ setengah 8, kajja kita berangkat. Kalian tidak mau telat piknik kan?” Hae Dung dan Hae In mengangguk dan segera meninggalkanku sendiri, “Appa!!!! Palliwa!!!!!” ku letakkan buku tua itu dan menyusul ke dua anakku.









