My Last Time



Cast :
Kim KeyBum

Cameo :
all SHINee member
Kim Hae In *author*
Super Junior Hangeng
4Minute Hyuna

Genre :
Fantasy, sad story

Author : 
Park Hae In a.k.a "Sangtae Maknae"

Point of View :
Kim Keybum

A/N :
Jangan membenci author setelah membaca FF ini. Ini bukan keinginanku, hanya sebuah ide gila yang merasuki otakku. Dan harus di tegaskan sang author tidak ingin hal yang ada dalam FF ini terjadi. Hehehehe.
And, don't be SILENT READER.....



**

Tok tok tok..

Ku alihkan pandanganku kearah pintu kayu berwarna putih itu, “Masuk,” kataku singkat dan kembali ke buku yang baru saja ku baca, “Oppa~~~” suara khas milik yeodongsaengku, Hae In. “Oppa, aku izin keluar ya. Minho oppa memintaku mengantarkannya mencari buku, ya ya ya??” mohonnya manja, ku tutup bukuku dan memandangnya, “Jam berapa akan pulang?” Hae In berfikir sejenak, “Jam 8 aku sudah di rumah oppa. Otte?” aku mengangguk dan mengacak poninya, “Wa~~ gomawo oppa!!!!” di ciumnya pipiku dan menutup pintu putih kamarku.

“Kau benar-benar menyayanginya ya,” sosok putih itu kembali muncul di kamarku, “Ne, hanya dia keluargaku sekarang. Dan sebentar lagi akupun akan meninggalkannya, Hangeng ssi.” Jawabku pada sosok bersayap itu. “Kau yakin tidak ini meminta perpanjangan waktu? 13 tahun kurasa waktu yang cukup panjang untuk membersihkan dosa-dosamu,” tawarnya, menggiurkan memang. “Ani, aku tidak akan menukar 13 tahun itu dengan nyawa adikku. Biarkan aku membersihkan dosa-dosaku di neraka nanti.” Jawabku mantap dan kembali membuka bukuku.

-3 days ago-
Seperti biasa, aku berjalan bersama ke empat sahabatku, Jinki, Jonghyun, Minho dan Taemin. 18 tahun kami lewati bersama, orang-orang yang sangat berarti dalam hidupku “Hyung, Hyuna noona dan Hae In” tunjuk Taemin pada dua gadis yang sedang berjalan ke arahku, dua orang lagi yang paling berharga dalam hidupku. “Oppa!!!!” teriak Hae In riang dan berlari ke arahku, Hyuna hanya berjalan di berjalan di belakangnya sambil memeluk beberapa buku tebal.

“Aku ke toilet dulu,” pamitku saat kami duduk di kantin sekolah. ‘Kenapa lorong sekolah begitu sepi? Tidak biasanya’ batinku heran. “Annyeong sunbae~~” sapa hobae yang cukup dekat denganku, aku tersenyum dan melanjutkan perjalananku.

Whussss~~~

Sebuah sinar berpendar terang di depanku, membuat tanganku bereaksi otomatis menutupi mataku sambil sedikit mengintip, “Cahaya apa itu?” tanyaku pelan, “Kim Kibum?” tanya suara yang mungkin sangat menenangkan, membuat perasaanku seakan terbang. “Nuguseyo?” tanyaku dan menurunkan tanganku, melawan silaunya cahaya putih itu. Berlahan cahaya itu menghilang, ku lihat sosok tegap bersayap putih dengan cahaya tipis yang mengelilingi tubuhnya, indah.

“Waktumu tidak lama,” ucapnya singkat, “Maksudmu?” sosok itu tersenyum dan mendekatiku, tangannya yang hangat menyentuh wajahku yang sekarang bergetar ketakutan. Mata itu, mata itu memberikan perasaan tenang dan perasaan yang menakutkan. Tuhan, siapa dia? “Kau bisa memanggilku Hangeng, mungkin ini akan mengejutkanmu. Tepat saat ulang tahunmu yang ke 20 akan ada malaikat pencabut nyawa bernama Soo Man yang akan menjemputmu.” Katanya membuatku membulatkan mataku, “Aku di sini sebagai pelindungmu sampai hari itu tiba. Aku bertugas menjagamu dari perbuatan yang akan menambah dosamu, dan aku akan membantumu membersihkan dosa-dosa yang sempat kau lakukan.” Ucapnya lagi.

“Kau, kau bercanda. 20 tahun? Aku masih sangat muda, mana mungkin aku,,,” senyuman itu menghentikan kata-kataku, “Taukah kau, kematian tidak memandang usia, bahkan di usia lima tahun pun kau bisa mati. Mulai sekarang biasakan dirimu dengan kehadiranku.” Ucapnya, seketika sayap besar itu merentang, membuatku terjatuh. Dia terbang, benar-benar terbang dan sekilat cahaya membuatnya hilang seketika.
-flashback off-

“Oppa,, oppa,,” aku tersentak begitu merasakan sentuhan dingin di pipiku, “Ya!!!” seruku kaget dan gelak tawa Hae In terdengar seketika, “Hahahaha, kau melamunkan apa oppa? Memikirkan Hyuna onnie?” tanya Hae In sambil meminum cola dinginnya, “Kau ini, bagaimana jalan-jalanmu tadi?” tanyaku sambil menggiringnya ke dapur, “Hanya mencari buku, oppa aku lapar.” Aku tersenyum, “Kalau begitu ambilkan kimchi di lemari es, akan ku masakan nasi goring kimchi untukmu.” Hae In bersorak dan kami mulai memasak bersama.

**

“Saengil chukkahamnida, saengil chukkahamnida~~ saranghaneun uri Kibum~~~ Saengil chukkahamnida~~~” tepuk tangan ceria membuat senyumku tersungging manis, ku tiup 19 lilin yang menghiasi kue ulangtahunku. Mereka memelukku dan memberikan ucapan selamat serta doa untukku, “Saengil chukkayo jagi,” Hyuna mencium pipiku singkat dan menyusul yang lain ke meja makan. Aku memandang mereka dengan perasaan penuh syukur, “Manfaatkan waktumu yang semakin sempit, Kim Kibum” sosok itu kembali menemaniku, memberikan rasa hangat yang cukup mendalam.

“Arraseoyo, aku akan menikmati apa yang akan terjadi setelah ini.” Jawabku dan menyusul teman-temanku, “Oppa, kau membuat ini? Ini sungguh enak oppa!!!” ucap Hae In bersemangat, aku hanya tersenyum. ‘Tuhan, haruskah aku pergi meninggalkan mereka secepat ini? Haruskah aku melihat mereka menangis karena kehilanganku? Tidak bisakah aku hidup lebih lama tanpa harus mengorbankan orang lain?’ tanyaku dalam hati, sungguh berat mengetahui tahun depan mereka akan menangis di depan makamku, “Jagi, waeyo?” tanya Hyuna lembut, aku menggeleng pelan dan tersenyum.

**

‘Inikah cobaan-Mu? Inikah yang harus ku nikmati sebelum aku pergi? Kenapa seperti ini Tuhan?’ Hyuna menangis di depanku, entah kenapa dia tiba-tiba ingin memutuskan hubungan kami yang sudah cukup lama, “Mianhae Key, jeongmal~~” ucapnya di sela-sela tangisnya, “Wae? Katakan alasanmu, alasan yang bisa aku terima Hyuna,” tuntutku, wajahnya yang kini kusut memandangku, “Aku,, aku…”

“Mianhae Key, aku yang bersalah,” sela Jonghyun, kutatap wajahnya yang kini sangat menyesal, “Maksudmu?” Jonghyun membantu Hyuna berdiri dan memelukknya, “Kami sudah….”

BUKK!!!!

“Kyaaaak!!!!!” teriak Hyuna saat aku memukul Jonghyun, “Noe!!!!” Jonghyun menghapus darah segar di sudut bibirnya, “Pukul aku sampai kau puas Key, aku yang salah, aku pantas menerima lebih dari ini. Mianhae Key, jeongmal mianhae~~” ku atur nafasku yang kini memburu, “Tenang Kim Kibum. Kerelaanmu akan menghapus sedikit dosa-dosamu,” bisik Hangeng, aku berjongkok di depan Jonghyun yang menutup matanya. “Kau mencintainya?” tanyaku membuat mata Jonghyun dan Hyuna membesar, “Key?”

“Jawab aku Kim Jonghyun!!!” Jonghyun mengangguk, “Mwo?” tanya Hyuna, “Mianhae Hyuna ya, Key ah. Sebagai sahabat aku adalah penghianat, perasaan ini muncul begitu saja. Dan saat itu aku….”
“Berhenti bicara!” Jonghyun menatapku, “Jaga Hyuna untukku.” Ucapku lagi, “Key, apa maksudmu? Aku,, aku,,” aku berdiri dan menarik Hyuna dalam pelukanku, “Gwenchana, aku sudah tidak bisa menjagamu, maafkan aku yang selama ini kurang perhatian padamu. Gomawo Hyuna,” Hyuna mempererat pelukannya dan menggeleng, “Ani, ani. Aku tidak mau kalau tidak bersamamu Key,” tolaknya.

“Jangan egois Hyun. Pikirkan bayi yang ada dalam kandungmu, dia butuh ayahnya yang sebenarnya.” Ku lepas pelukanku, membantu Jonghyun berdiri dan menyatukan tangan Jonghyun dan Hyuna, “Setelah lulus nanti, pastikan kalian bahagia.” Ucapku dan meninggalkan mereka. ‘Kuatkan aku Tuhan,’ air mataku mengalir, bohong jika aku bilang aku rela, tapi akan lebih sakit lagi jika aku harus meninggalkan mereka tanpa memberikan kebahagiaan.

**

“Hyung, kenapa begitu lesu?” tanya Taemin saat aku baru saja memasuki ruang tamu rumahku, “Ani, sedang apa kau?” tanyaku, kulihat beberapa buku berserakan di meja, “Mana Hae In?” Taemin menunjuk dapur, dan segera saja aku berjalan ke dapur. “Hua!!!! Aiyya~~ baboya yeoja~~~” keluh Hae In sambil mengelap lantai yang basah, ‘Tuhan, bagaimana bisa aku meninggalkannya? Dia masih terlalu kecil,’ batinku sedih. Hangeng berdiri di sampingnya, mengeringkan lantai tanpa sepengetahuan Hae In, “Eh, oppa. Sudah pulang?” tanya Hae In membuyarkan lamunanku.

“Ne, sedang apa kau? Kenapa Taemin sedirian di depan?” Hae In menunjuk dua gelas dan dua mangkuk di meja, “Ah~ sudah belajarlah lagi. Biar oppa yang membuatkan makan siang untuk kalian.” Kataku kemudian, Hae In tersenyum dan segera mencuci tangannya, “Gomapta oppa!!!” ucapnya dan mencium pipiku sekilas. “Kenapa kau membantunya?” tanyaku pada Hangeng yang sedari tadi memperhatikan kami, “Kim Hae In anak yang baik, sudah seharusnya aku membantunya.” Ucapnya singkat dan menghilang.

**

Dadaku terasa sesak, pandanganku kabur dan keseimbanganku hilang, Tuhan aku kenapa?

“Hyung,,” ku buka mataku yang terasa berat ini, “Ah~~” ucapku lirih, “Ah, syukurlah kau sudah sadar hyung,” kembali ku penjamkan mataku dan mencoba mengingat apa yang sedang terjadi. “Jinki hyung, dia sudah sadar.” Teriak Minho pada Jinki yang membalas dengan gumaman tak jelas, “Hyung, ini airnya.” Minho memberikan segelas air dingin untukku, “Gomawo,” ucapku dan kembali menidurkan kepalaku. “Aku kenapa?” tanyaku pada Minho, “Kau pingsang hyung, tadi pagi kau memegang dadamu dan berteriak. Kau sakit hyung?” aku menggeleng tak mengerti.

“Mungkin kau kelelahan Key, bukankah kau sering pulang malam?” aku menatap Jonghyun, “Kalau begitu mulai sekarang jangan pernah pulang malam. Kalau masih ada tugas kampus sebaiknya kau bawa pulang, Mungkin Hae In bisa mengontrol waktu istirahatmu,” tambah Jinki hyung, “Hae In? Dia tau masalah ini?” tanyaku panik, “Tenang, aku sudah menyuruh Taemin untuk tidak mengatakan apa-apa.” Jawab Jonghyun, “tidurlah Key, jika ada sesuatu yang kau butuhkan, hubungi aku.” Tambahnya dan mereka meninggalkanku sendiri.

“Bisakah kau jawab pertanyaanku, Hangeng ssi? Aku tidak punya penyakit apapun selama ini?” tanyaku pada udara kosong yang kemudian menampakkan sosok menenangkan itu. “Mian, sebentar lagi kau akan terkena kanker otak. Bersiaplah.” Jawabnya tenang. Ku banting gelas di sampingku, “Aku ini manusia biasa!!! Kenapa kau bisa bicara setenang itu!?” bentakku frustasi, “Aku bukan orang hebat yang bisa menerima keadaan yang mungkin di luar akal sehatku! Aku ini manusia lemah!” Hangeng terdiam, aku tau aku tidak mungkin meminta jawaban yang tak bisa di jawabnya, “Aku hanya menjalankan tugas.” Jawabnya singkat.

“Apakah setiap orang sepertiku? Apakah kau atau bangsamu selalu memberitahu hari dimana orang-orang akan mati? Apa semua orang mengalami apa yang aku alami?” tanyaku setelah sedikit tenang, “Ani, hanya orang-orang yang di anggap-Nya pantas masuk surga yang mengalami hal ini.” Aku tersenyum mendengar jawaban sederhana itu, “Setidaknya aku tau dimana aku akan di tempatkan nanti,” bisikku pelan dan kembali merebahkan raga yang kelelahan ini, raga yang sebentar lagi akan menjadi sesuatu tak berarti dan hanya bisa diam.

**

“Kau terkena kanker otak stadium 3” ucap dokter di depanku, aku hanya bisa tersenyum, ‘Akhirnya aku mendengar kata-kata ini’ batinku dan segera pamit untuk pulang, “Dok, tolong rahasiakan ini dari siapapun,” kataku di ambang pintu, “Bagaimana kalau keluargamu menanyakan keadaanmu?” aku mengeleng singkat dan sang dokter mengangguk mengerti. “Tidak boleh ada yang sedih karenaku dok. Kamsahamnida” pamitku dan melangkah keluar dari rumah sakit.

“Sedang apa kau di sini Key?” tanya Jinki hyung saat berpapasan denganku di lobi rumah sakit, “Aku? Hanya mengunjungi pasien-pasien kecil itu,” dustaku sambil menunjuk anak kecil yang mengenakan pakaian rawat, “Bukankah kau mengambil spesialis bedah?” aku tertawa kecil dan mengalungkan tanganku di lehernya, “Apa aku tidak boleh mengunjungi mereka? Aku juga akan membedah mereka kan?” Jinki hyung mengangguk, “Arasso, kau sudah selesai kan?” aku mengangguk, “Kalau begitu ayo kita makan. Kebetulan aku sangat lapar, dan sepertiny dompetku cukup tebal untuk mentraktirmu,” katanya lagi.

**

Hae In PoV
“Saengil chukka hamida,, saengil chukka hamnida,, saranghan…. Key!!!!” Key oppa terjatuh di sampingku, “Oppa!!! Oppa!!!! Oppa ironabwa!!!!” teriakku sambil mengguncang tubuhnya, “Hae In ah~~ panggiil dokter, pallie!!!!” segera aku mengindahkan perintah Jonghyun oppa, “Mereka dalam perjalanan. Oppa~~” tangisku meledak begitu saja, kenapa oppa? Kenapa dia bisa seperti ini. Dan segera tubuh kurusnya di bawa ke kamar.

Wusss~~~

Ku rasakan hembusan angin hangat di depanku, ku angkat kepalaku dan melihat Taemin yang balik memandangku, “Mwo?” tanyanya heran, aku hanya menggeleng, angin apa tadi? “Jangan menangis, bahagiakan dia di akhir hidupnya” segera ku lihat udara kosong di sebelah kananku, “Nuguseyo?” tanyaku pelan, “Nugu?” Minho melihat ke arahku, “Yang bicara tadi, siapa yang bilang aku harus membahagiakan oppa di akhir hidupnya?” tanyaku lagi, dan ke empat namja memandangku heran, “Hae In ah~ itu hanya khayalanmu, jagi. Tidak ada yang bicara dari tadi,” ucap Minho dan memelukku, “Dokter datang!!!!” teriak Taemin. “Kajja, biarkan dokter memeriksanya dulu,” ajak Jinki oppa.

“Oppa kenapa?” tanyaku pada bintang yang kini berkedip indah padaku, “Hae In ah~ masuklah.” Ku lihat Jinki oppa memandangku khawatir, “Aku masih ingin di luar oppa. Masuklah dulu, beri tahu aku jika dokter sudah keluar,” Jinki mengelus rambutku dan kembali meninggalkanku sendiri, “Hangat,,” bisikku pelan, “Kau bisa merasakanku Kim Hae In?” suara itu! Ku edarkan pandangku ke berbagai arah, hanya ada aku sendiri, “Nuguseyo?” tanyaku sedikit pelan, aku yakin ada sesuatu di sini. Berlahan aku melihat sosok itu, sosok bersayap putih dengan cahaya indah di sekelilingnya.

“Perkenalkan, aku Hangeng. Malaikat yang menjaga Kim Kibum.” Ucapnya dan berjalan mendekatiku, “Apa maksudmu? Oppa kenapa? Kenapa dia seperti itu? Dan untuk apa kau menjaganya?” tanyaku bertubi-tubi, “Aku akan mengatakannya sekali, dan besok kau akan melupakan kehadiranku, semua yang terjadi malam ini,” aku menatapnya lekat-lekat, “Pada malam ulang tahunnya yang ke 20, dia akan merasa sangat kesakitan di bagian kepalanya, dia akan berteriak sehingga membuatmu dan sahabat-sahabatnya menangis, tapi satu hal yang akan aku katakana. Dia menginginkan kalian bahagia, dan jangan pernah menangis di hadapannya.”

“Apa maksudmu!? Oppa kenapa?” teriakku histeris, malaikat itu mendekatiku dan memelukku, “Tenanglah Kim Hae In, aku akan menjaganya, membantu mengurangi rasa sakitnya, sampaikan ucapanku pada Lee Jinki, Kim Jonghyun, Choi Minho dan Lee Taemin.” Dan berlahan kehangatan itu di gantikan oleh dinginnya udara malam, “Hae In ah!!!” Minho membalikkan badanku ke arahnya, “Noe gwenchana?” tanyanya, aku hanya bisa menangis dan memelukknya, “Hae In ah~ wae? Mahre~~~”
Hae In PoV end

“Mianhae Minho ah~ pesta ulang tahunmu jadi berantakan,” sesalku saat sadar dari pingsanku, “Apa yang kau katakana, hyung? Pesta itu tidak penting, yang terpenting adalah kenapa kau?” aku menyandarkan tubuhku di sofa empuk di rumah Minho, “Aku hanya kelelahan. Bukankah dokter juga bilang seperti itu?” tanyaku pada kelima pasang mata yang memandangku sekarang, “Ne oppa, kalau begitu biarkan aku yang menyetir. Minho ah~~, Jinki oppa, Jonghyun oppa, Taemin ah~ kami pulang dulu.” Pamit Hae In dan membantuku berdiri. “Mari ku bantu,” Jinki meraih tanganku dan mengalungkan di lehernya, Minho mengandeng Hae In dan Jonghyun menarik Taemin yang setengah tertidur.

“Jangan berbohong oppa, kau kenapa?” tanya Hae In memecah kesunyian jalan raya Seoul, jalan yang selama ini sangat indah di mataku. “Mwo?” Hae In mengentikan mobil kami, “Aku tau kau sakit oppa. Apa kau bisa masih mau membohongiku yang sudah 17 tahun hidup bersamamu?” desaknya membuatku sedikit terteguh, gadis kecilku ternyata sudah dewasa. “Jangan tersenyum oppa! Jangan tersenyum jika itu menyembunyikan kesedihanmu! Hargai aku sebagai adikmu oppa!!!” bentaknya. Ku raih kepalanya dan memeluknya, “Gomawo Hae In ah~ memang hanya kamu yang paling mengenalku.” Ucapku menenangkan, “Oppa memang sakit,” ku rasakan hentakan terkejut dari tubuhnya. “Tapi oppa akan segera sembuh, percayalah.”

“Yakso?” ku lepas pelukanku dan mencubit pipinya yang chuby, “Pernahkah oppa berbohong?” Hae In menggeleng dan menghapus air matanya, “Kamu juga harus berjanji satu hal pada oppa, jangan pernah menangis. Yakso?” ku sondorkan kelingkingku, “Kim Hae In..” dan segera di kaitkan kelingkingnya di kelingkingku. “Nan yakso, oppa!!!”

**

Tuhan, waktuku semakin sempit. Bulan Agustus hampir berakhir, kalau begitu sebentar lagi aku…. “Hyung, kenapa masih diam di situ? Pallie!!!” teriak Taemin yang sudah memasuki cafe tempat kami biasa berkumpul, “Mana Hae In?” tanyaku begitu duduk di salah satu kursi di meja yang biasa kami tempati, “Hae In ada latihan basket hyung. Apa semua acara kita harus ada anak itu?” tanya Taemin sedikit kesal, “Hahaha, apa maksudmu Minnie? Key tidak mungkin membawa Hae In ke pesta khusus namja bukan?” celetuk Jonghyun. “Jjong benar, mana mungkin aku membawanya. Hahahaha!!!” tawaku sambil mengacak-acak rambut sang maknae.

Mungkin ini terakhir kalinya aku tertawa bersama mereka, biarkan aku menghabiskan waktuku yang tinggal beberapa hari ini bersama mereka, tertawa dan meninggalkan kenangan indah. “Kenapa melamun lagi Key?” Jinki hyung melambaikan telapak tangannya di depan wajahku, “Eh?” kagetku, “Ani, hanya memikirkan ucapan Jjong tadi. Hahahaha” dustaku dan berhasil membuat mereka tertawa, untunglah mereka tidak curiga.

“Hyung, sebentar lagi ulang tahunmu, bagaimana kalau kita berlibur ke Taiwan?” usul Minho membuatku kembali terteguh, ‘Bagaimana bisa aku berlibur?’ sebuah buku menu mengenai kepalaku, “Kau ini kenapa Key? Akhir – akhir ini kau terlalu sibuk dengan pikiranmu,” tegur Jinki hyung, “Hahahaha. Kau kira aku kenapa hyung? Aku baik-baik saja, perasaanmu yang berlebihan hyung.” Balasku dan memukul pelan lengannya.

**

Besok, besok adalah hari terakhirku. Tuhan, aku tak sanggup menghadapi hari itu, aku tidak mau melihat Hae In sendirian. “Bukankah aku yang akan menjaganya?” Hangeng memainkan salah satu buku pelajaranku, “Dengan sosok yang bahkan tak bisa di rasakannya? Jangan bercanda, dia butuh seseorang,” balasku sedikit ketus. Kadang aku sebal dengan ucapan Hangeng yang terlalu santai, “Kau lupa dengan Choi Minho? Aku yakin dia akan menjaga Kim Hae In, bersama denganku Kim Hae In akan baik-baik saja,” aku hanya menganggat kepalaku dan turun ke dapur.

“15 menit lagi” ucapku pelan saat melihat jarum jam yang menunjukkan pukul 11.45. berlahan keseimbanganku sedikit hilang, “Ah~~” keluhku saat ku rasakan otakku seperti tertusuk sesuatu, “Han~~~” Hangeng memelukku dan memberikan sebuah ketenangan, “Aku tidak bisa terlalu lama Kim Kibum, sebentar lagi dia akan dating.” Hangeng melepas pelukannya dan rasa sakit itu mulai menyerangku lagi, “Jebal Han, jebal~~ jangan… Arghk!!!!!” aku terjatuh dan meringkuk, berharap rasa sakit itu akan hilang. “Hyung!!!!” terdengar suara Minho dan Taemin memanggilku, ku buka mataku dan melihat Hae In menahan Minho dan Taemin untuk mendekatiku.

“Hae In ah~ kenapa kau? Key hyung sedang…..”
“Oppa~~~” Hae In mendekatiku dan berjongkok di depanku, “Appo?” aku mengangguk dan semakin meremas rambutku, “Kau kuat oppa, bertahanlah. Sebentar lagi rasa itu akan hilang,,” Hae In menghapus air mata yang sempat mengalir, entah kenapa ucapan itu menguatkanku, dan rasa sakit itu berlahan hilang.

Wussshhhhh!!!!!

Angin besar menerpa tubuhku, dan dapat ku lihat sosok itu datang. Hangeng membungkuk dan mundur beberapa langkah, ‘Dia kah sang penyabut nyawa itu? Dia kan Soo Man?’ ku lihat Hangeng mengangguk pelan. Dan kembali ku rasakan rasa sakit yang mendalam, “Arrgghhh!!!!!” teriakku panjang, “Hyung!!!! Key!!!! Oppa!!!!” teriak Jinki, Jonghyun, Minho, Taemin dan Hae In bersamaan, “Arghh!!!!” erangku lagi, Tuhan kepalaku seakan mau pecah!!!

Seorang namja setengah baya dengan jubah hitamnya dan sebuah tongkan panjang di tangan kirinya kini memandangku dalam, “Kim Kibum,,,” suara besar itu membahana hebat di telingaku, membuat aku menutup kupingku. “Kini sudah saatnya kau ikut denganku. Waktumu habis di dunia ini Kim Kibum.” Aku menggeleng, “Shiro!!!! Aku,,, aku,,, Arghkk!!!!!” seakan akan ada yang menarik paksa setiap helai rambutku, “Arggh!!!!” teriakku lagi membuat seisi rumahku menangis, “Aku harus mengatakan satu hal!!! Jebal!!!!” teriakku pada sosok menyeramkan itu. “Tidak ada tawar menawar Kim Kibum.” Kini seperti sebuah pisau yang menyatat setiap kulit kepalaku.

“Jebal!!! Aku hanya ingin mengatakan satu hal!!! Hanya satu kalimat!!!!!” teriakku lagi, “Tuan, tidak ada salahnya memberinya kesempatan terakhir. Toh Tuhan selalu memberi waktu untuk bertobat,” mohon Hangeng lembut, Soo Man memandang Hangeng dengan tatapan benci. “Lemah!” bentaknya pada Hangeng yang menunduk dan menatapku, “Jebal~~” ku lihat Hae In menatapku tajam, “Jebal~~” bisiknya lagi tanpa sepengatuan Jinki, Jonghyun, Minho dan Taemin. Soo Man memandangn Hae In dan aku secara bergantian. “Hanya satu kalimat” dan rasa sakit itupun hilang.

“Hah~~ hah~~ hah~~~” nafasku memburu, entah bagaimana aku bisa bernafas lega. “Katakan apa yang ingin kau katakan. Hanya ada satu kalimat Kim Kibum.” Aku mengangguk dan menatap lima orang yang paling berarti di hadapanku. Aku berdiri sehingga merekapun ikut berdiri. Pertama ku peluk Jinki hyung, “Key??” herannya saat aku melepas pelukanku, kini aku memeluk Jonghyun, “Neo gwenchana?” ingin rasanya aku menjawab, tapi aku tidak bisa.

“Hyung?” ku peluk sang maknae dan mengajak rambutnya. Minho tersenyum menandangku, “Aku akan menjaga Hae In hyung.” Ucapnya dan memelukku lebih dulu, sepertinya dia tau ini waktu terakhirku. Hae In menghapus air matanya dan memelukku, “Saranghaeyo oppa. Jeongmal!” aku mengangguk dan mengecup keningnya. “Kalian, bahagia dengan atau tanpaku,,,” seketika kurasakan tubuhku menjadi ringan dan semua hilang.

**

comment please..
created : 06 Mei 2010 @18.07 WIB

3 komentar:

Fairy Fairies mengatakan...

tes,,, mau culik hangeng,,
mewek mewek gara ngkey mati

Shinee n Shawol mengatakan...

T.T
oppa jgn ngilang dulu !!!
ak g mau dititipin ke siapapun ..maunya ma key oppa ajah
wah..ini ade eon echie ? naneun tya imnida..18 yo..
tega nian..kau buat key yeobo ku mati huhuhu

sparkling blue mengatakan...

ecie : culik kemana??.

Tya nuna : wkwkwkwkwkw..
mianhae~~~
kekekekekekeke..

Posting Komentar

Copyright 2009 Sparkling Blue. All rights reserved.
Free WPThemes presented by Leather luggage, Las Vegas Travel coded by EZwpthemes.
Bloggerized by Miss Dothy